Pada dua hari yang lalu, 3 Januari 2012, saya pergi ke kota Sekayu. Sekayu merupakan ibukota Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan. Jaraknya kurang lebih 124 kilometer dari kota Palembang ke arah barat. Atau sekitar 3 jam jika Anda mengendarai mobil.

Rute perjalanan menuju Sekayu melewati hamparan hutan pohon karet dan sawit yang mayoritas milik PT Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII). Hampir tidak ada yang menarik perhatian saya. Karena bosan, akhirnya saya tertidur untuk beberapa lama. Mungkin sekitar sejam saya terlelap.

Saya terbangun akibat mobil travel yang saya tumpangi berguncang-guncang ketika melewati jalan yang tidak mulus saat memasuki wilayah Kecamatan Lais 1. Saya sudah berada di Kabupaten Muba tetapi kota Sekayu masih cukup jauh.

Beberapa saat saya menoleh ke kiri dan ke kanan untuk menyegarkan mata supaya tidak lagi mengantuk. Akhirnya pandangan saya tertuju pada sebuah poster iklan politik. Menarik perhatian, karena saya belum pernah melihatnya di Palembang. Sebuah poster bergambar Hatta Rajasa dengan tulisan “Harapan Baru untuk Indonesia”.

Poster tersebut semakin banyak terpasang setibanya saya di Sekayu. Saya sempat memfoto salah satunya.

 

 

Saya memang mengetahui bahwa Hatta sedang digadang-gadang oleh Partai Amanat Nasional (PAN) untuk menjadi Calon Presiden RI pada Pemilu 2014. Saya juga mengetahui bahwa kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) belum dimulai. Lalu mengapa ada poster iklan tersebut? Walaupun secara vulgar bukan merupakan kalimat ajakan untuk memilihnya menjadi Presiden tetapi kita mengerti maksudnya.

Ah, saya malas untuk mengomentari hal itu. Biar sajalah. Saya malah lebih tertarik memperhatikan “strategi pemasaran” para tokoh-tokoh yang katanya cocok untuk jadi Presiden RI berikutnya itu. Seperti yang sudah diketahui bahwa selain Hatta, terdapat dua nama baru yang sedang menjadi pusat perhatian media yaitu Dahlan Iskan dan Joko Widodo.

Mereka memang tidak pernah bilang ingin mencalonkan atau merencanakan diri menjadi RI 1. Hanya saja masyarakat, termasuk saya, yang begitu terpukau dengan karakter dan tindak laku mereka. Sehingga berharap kalau Presiden berikutnya seharusnya memiliki ciri-ciri sifat seperti mereka.

Dahlan Iskan dan Joko Widodo menunjukan hati dan pikirannya secara lugas pada kita. Mereka seolah begitu dekat, mudah dipercaya, seperti teman lama. Mereka sama seperti kita. Mereka tidak bertingkah seperti para pejabat yang membuat batas dengan rakyatnya.

Kita―setidaknya saya―telah dibuat jatuh hati pada mereka. Mereka berhasil melakukan politik hati. Jauh dari gemerlap pencitraan melalui poster di jalan dan iklan di televisi. Mereka tidak perlu bilang bahwa dirinya merupakan harapan baru untuk Indonesia. Mereka tidak perlu meyakinkan pada masyarakat kalau dirinya peduli pada bangsa ini. Mereka tidak membutuhkan politik citra seperti itu. Mereka tidak perlu lakukan itu semua.

Jujur saja, kita―khususnya saya―sudah begitu lelah sampai “keram otak” menonton tingkah polah politik citra para tokoh partai saat ini. Sudah muak sekali. Dahlan Iskan dan Joko Widodo seolah menyadarkan kita bahwa sesungguhnya Tuhan tidak pernah tidur. Dia menunjukkan bahwa masih ada (banyak) manusia Indonesia yang benar-benar layak menjadi harapan bangsa.

Tahun 2014 memang masih dua tahun lagi. Walau begitu, semoga akan terus muncul orang-orang seperti Dahlan Iskan dan Joko Widodo dan bersedia untuk maju dalam Pilpres. Saya sungguh berharap itu, agar saya “suka cita” dalam memilih Presiden nanti.