Belum lama ini saya memperoleh sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga. Pelajaran tentang makna kejujuran. Saya menghadapi tiga masalah yang berlainan dalam perihal, namun sama pada hakikat.

Tentu, saya tidak akan bercerita kejadian itu pada Anda secara rinci di blog ini. Intinya saja, bahwa saya telah dikecewakan oleh prilaku ketidakjujuran dari tiga macam manusia. Sehingga saya kemudian menjadi begitu gusar (baca murka) dibuatnya selama beberapa hari.

Mengambil hikmah dari kejadian tersebut, saya akhirnya berkesimpulan, bahwa kejujuran memiliki korelasi dengan keberanian. Jika seseorang telah memilih bersikap jujur maka sesungguhnya ia sudah memastikan diri menjadi pemberani.

Berani memilih untuk tetap setia menuntaskan komitmen dan malah bukan mencuranginya. Walaupun ternyata dari komitmen tersebut hanya memberikan keuntungan yang tipis. Berani menjelaskan kondisi yang sebenarnya pada klien walaupun harus menghadapi kemarahan dan kekecewaan mereka. Berani memilih untuk tidak mencontek dan menolak dicontek walau harus beresiko memperoleh nilai yang buruk dan dimusuhi teman. Semua itu merupakan sebagian kecil contoh dari sebuah keberanian. Keberanian seorang ksatria.

Kejujuran tidak selalu identik dengan jumlah umur, jenis kelamin, jenis profesi atau pekerjaan, status sosial, tingkat pendidikan, suku, kultur atau bahkan macam agama yang dianut. Ia dapat dimiliki oleh siapa saja yang mau memilihnya.

Selain itu, tingkat kejujuran juga punya keterkaitan langsung dengan prilaku koruptif. Ketidakjujuran merupakan inti dari kebiasaan koruptif. Semakin rendah tingkat kejujuran seseorang maka semakin tinggi potensinya bertindak koruptif.

Transparency International baru saja mempublikasikan Indeks Persepsi Korupsi atau IPK (Corruption Perseptions Index atau CPI) tahun 2011 untuk 182 negara di dunia. Indonesia berada pada posisi 100 dengan nilai 3,0. Posisi yang masih termasuk dalam negara dengan tingkat korupsi tinggi.

Nilai dan peringkat negara dalam IPK sesungguhnya dapat dimaknai secara luas. Bagi saya, IPK tidak hanya sekedar level kondisi korupsi di suatu negara tetapi juga merupakan indeks kejujuran negara tersebut.

Jika saya baca dengan menggunakan kacamata indeks kejujuran maka Indonesia merupakan negara dengan tingkat kejujuran yang rendah sehingga bangsa-bangsa lain perlu berhati-hati agar tidak terperdaya jika ingin membangun kerjasama dengan Indonesia. Mohon maaf, Anda mungkin saja tidak setuju dengan pendapat saya ini tetapi seperti itu yang saya pahami.

Saya selalu percaya bahwa hanya orang-orang berprilaku jujur yang berani memberantas korupsi secara tuntas. Jadi jangan berhenti berharap, kita semua bisa bergabung dengan mereka. Bagaimana Anda mau? Saya mau, karena berani jujur itu, super sekali!

-hanya sebuah renungan sederhana di Hari Anti Korupsi Internasional 2011

 

—————
Ayo jadi agen perubahan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih terhormat dan bermartabat.

 

 

Unduh Are You An Agent of Change?