Sebuah film bertema biografi dan sejarah telah hadir menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini. Film tersebut berjudul Sang Pencerah. Sebuah film yang bercerita tentang kisah hidup seorang kyai, pahlawan nasional dan pendiri Muhammadiyah, Muhammad Darwis atau yang lebih dikenal dengan nama Kyai Haji Ahmad Dahlan.

Sang Pencerah sarat dengan perenungan tentang bagaimana memahami Islam secara utuh dan benar. Melalui sosok Ahmad Dahlan yang cerdas, kritis dan peduli dalam menanggapi berbagai masalah tauhid dan sosial kemasyarakatan, penonton diajak kembali untuk bertanya pada diri sendiri. Sudahkah kita menjalankan Islam secara benar? Tidak tercampur dengan mistik, tahayul dan tradisi? Sebagai muslim, sudahkah menjadi Rahmatan Lil Alamin? Apakah kita termasuk fanatik yang menyingkirkan akal sehat sehingga menjadi bodoh tidak mau melihat dan mendengar kebenaran?

Sejak berumur belasan tahun, Muhammad Darwis (Muhammad Ihsan Tarore) sudah resah dan gusar menyaksikan kehidupan beragama masyarakat kampung Kauman dan Kesultanan Yogyakarta. Mereka kerap melakukan bid’ah, mencampurkan mistik dan tradisi dengan syariat Islam. Kekecewaannya semakin bertambah karena para ulama ternyata membiarkan bahkan terkesan membenarkan.

Muhammad Darwis ingin berbuat sesuatu untuk memperbaiki kondisi itu. Berbekal nasehat dari Kyai M. Fadlil (Sudjiwo Tedjo) yang merupakan paman dan kelak menjadi mertuanya, Muhammad Darwis mantap untuk menunaikan ibadah haji sekaligus belajar tentang Islam lebih dalam di Mekkah walaupun saat itu ia masih berumur 15 tahun. Ia ingin menyelesaikan sejumlah persoalan tersebut dengan ilmu.

Setelah lima tahun menuntut ilmu di Mekkah, Muhammad Darwis kembali ke Kauman dan berganti nama menjadi Ahmad Dahlan (Lukman Sardi). Kyai muda ini kemudian menggantikan ayahnya, Kyai Abu Bakar (Ikranegara), menjadi khatib di Mesjid Besar Kauman dan guru ngaji di suraunya. Dalam ceramah pertamanya, ia dengan lantang mengingatkan jama’ah untuk berhenti melakukan segala kegiatan bid’ah terhadap syariat Islam.

Tentu saja seruan tersebut membuat para kyai sepuh terusik terutama Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo Djarot). Dia merupakan imam di Mesjid Besar Kauman yang juga berperan sebagai kyai penjaga tradisi. Karena statusnya ini, dia seolah menjadi penentu bagaimana cara beragama yang harus dilakukan oleh masyarakat. Semua kegiatan ritual keagamaan harus melalui persetujuannya terlebih dulu.

Oleh karenanya seruan Ahmad Dahlan itu merupakan ancaman terhadap tradisi yang telah ajek dan sekaligus nantinya akan mengikis kewibawaan dan pengaruh Kyai Penghulu di masyarakat. Karena selama ini, Kyai Penghulu telah menjadikan agama sebagai alat untuk memperoleh pengaruh di masyarakat. Politisasi agama telah terjadi.

Tidak berhenti sampai situ saja, Ahmad Dahlan kembali ‘berulah’ dengan mengkritisi arah kiblat. Dengan menggunakan sebuah kompas dan peta, ia memberitahu bahwa arah sholat selama ini salah. Semua mesjid yang ada telah keliru menentukan arah Ka’bah.

Pertentangan yang terjadi sungguh menarik untuk disimak. Ahmad Dahlan menggunakan ilmu falak untuk menjelaskan dan membuktikan tentang arah kiblat yang benar. Sedangkan para kyai lain meyakini bahwa Allah tidak memerlukan arah untuk menghadap-Nya. Logika berbenturan dengan keyakinan.

Ahmad Dahlan berargumen, bukankah Rasulullah juga berputar 180⁰ ketika Allah memerintahkan untuk berganti kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram? Artinya Rasulullah menganggap sangat penting arah sholat ini. Tidak dapat terima dengan argumen tersebut, para kyai mempersoalkan kompas dan peta sebagai alat yang sering digunakan oleh kaum kafir (penjajah Belanda) sehingga jika Ahmad Dahlan juga menggunakannya, dia dapat dianggap sebagai kyai kafir.

Pertentangan semakin meruncing karena semakin banyak orang yang meyakini, terutama dari golongan pemuda, bahwa Ahmad Dahlan benar. Konflik mencapai puncaknya ketika surau Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Kejadian itu sempat membuatnya menyerah dengan kenyataan yang ada, ia merasa telah hidup di lingkungan yang salah.

Selain menyelesaikan masalah-masalah tauhid, Ahmad Dahlan juga terpanggil untuk melakukan perubahan sosial di masyarakat. Dia sangat prihatin melihat kebodohan dan kemiskinan yang ada akibat dari penjajahan Belanda serta ketidakpedulian para priyayi Jawa pada rakyatnya. Ahmad Dahlan akhirnya berkenalan dengan para pendiri Budi Utomo yang juga mempunyai kepedulian yang sama.

Ahmad Dahlan banyak belajar dari Budi Utomo terutama tentang pentingnya peran pendidikan dalam mengentaskan kemiskinan dan alat perjuangan untuk melawan penjajahan. Selain itu dia juga belajar tentang bagaimana membangun dan mengurus sebuah organisasi.

Ahmad Dahlan telah bertransformasi dari seorang kyai menjadi seorang cendikiawan muslim. Ia tidak hanya mengajarkan tentang ilmu agama tetapi juga ilmu pengetahuan seperti bahasa, geografi bahkan musik. Tentu pada jamannya, hal ini merupakan sebuah ketidakwajaran yang terus menjadi gunjingan, ejekan bahkan penolakan di masyarakat. Tetapi Ahmad Dahlan tidak bergeming, tetap teguh dengan prinsipnya. Sampai akhirnya ia berhasil mewujudkan keinginannya untuk membentuk sebuah organisasi sosial yang bernama Muhammadiyah pada tanggal 18 Nopember 1912.

Bagi saya, Sang Pencerah merupakan tontonan yang bermutu dan mencerahkan. Hanung Bramantyo (sutradara) berhasil menyusun alur peristiwa dalam sejarah hidup Ahmad Dahlan menjadi sebuah tontonan yang utuh dan memiliki benang merah yang jelas. Oleh karena itu, saya sangat merekomendasikan film ini untuk Anda tonton dalam mengisi liburan lebaran kali ini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H dan selamat menonton🙂.