Jangan pernah meremehkan sebuah ide. Sekonyol apa pun itu. Karena sebuah ide seringkali dapat menjadi solusi di kehidupan sehari-hari.

Saya mendapatkan pelajaran berharga itu saat menghadiri TEDx Jakarta Event dua hari yang lalu (25/7) di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta. TEDx Jakarta Event merupakan sebuah momen berbagi ide dari sejumlah pembicara yang telah berhasil memberi pengaruh dan perubahan yang baik kepada banyak orang. Kegiatan ini terinspirasi dari apa yang dilakukan oleh TED.com.

Pada penyelenggaraan yang kelima kalinya ini, komunitas TEDx Jakarta menghadirkan enam orang dari berbagai latar belakang yang berbeda untuk berbagi ide dan menginspirasi. Mereka adalah Irfan Amalee, Irwan Ahmett, Dr. Nurul Taufiqu Rochman, Barry Likumahuwa, Ade Rai dan Ridwan Kamil.

Mereka merupakan individu-individu yang kaya dengan ide dan inovasi. Tidak hanya itu saja, mereka juga mempunyai keinginan yang kuat untuk menggagas sebuah perubahan pola pikir dan prilaku pada masyarakat. Tidak lagi sekedar protes pada keadaan tetapi telah berbuat sesuatu.

Seperti yang Irwan Ahmett telah lakukan. Dengan mengusung ide urban play, Irwan mengajak semua orang untuk tersenyum dan meraih bahagia dengan cara bermain. Karena Irwan yakin bahwa pencapaian hidup yang hakiki adalah memperoleh kebahagiaan, yang salah satunya dapat ditemukan pada saat bermain.

Berkaca pada masa kecil dulu yang selalu riang dan bahagia. Karena saat itu hidup dipahami dengan sangat sederhana. Hidup hanya sebagai sebuah permainan saja. Jadi mengapa kita tidak melakukannya itu sekarang?

Sudah sembilan macam permainan yang Irwan ciptakan sampai dengan saat ini. Salah satunya berjudul Public Furnitur yang dapat Anda saksikan pada video berikut ini.

 

 

Selanjutnya Irfan Amalee yang sangat gelisah melihat kekerasan dan pertikaian yang marak terjadi di Indonesia. Irfan menganalisa bahwa hal ini disebabkan oleh dangkalnya pemahaman masyarakat mengenai perbedaan. Irfan lalu berbuat sesuatu, Ia mewujudkan idenya untuk membangun sebuah peace generation melalui sejumlah modul yang mengajarkan 12 nilai dasar perdamaian di sekolah-sekolah.

Kini 12 modul perdamaian buatan Irfan telah digunakan oleh banyak sekolah di Indonesia. Bahkan modul tersebut juga akan diterapkan pada sejumlah negara lain. Serta rencananya, modul serupa juga akan dibuat lagi berbasis ajaran agama Kristen dan Katolik.

Video berikut adalah salah satu nilai dari 12 nilai dasar perdamaian yang diajarkan kepada murid-murid sekolah.

 

 

Sama seperti Irfan Amalee yang gelisah, Dr. Nurul Taufiqu Rochman juga geregetan melihat kenyataan bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia tidak hanya tereksploitasi secara fisik tetapi juga termanipulasi secara ekonomi. Dr. Nurul Taufiqu Rochman adalah seorang pakar di bidang teknologi nano dan juga merupakan ketua dari organisasi Masyarakat Nanoteknologi Indonesia.

Nurul mengatakan bahwa setelah menggunakan proses nanoteknologi, sebuah material akan berlipat-lipat ganda nilai ekonomisnya. Nurul sangat terguncang batinnya ketika banyak hasil bumi Indonesia yang dijual ke luar negeri dengan harga sangat murah. Kemudian mereka memprosesnya dengan nanoteknologi. Lalu mereka menjual produk jadinya ke Indonesia dengan harga yang sangat fantastis. 10 sampai dengan 1 juta kali lipat dari harga bahan bakunya.

Nurul pun tidak bisa berdiam diri lagi, Ia lantas mewujudkan idenya untuk menciptakan mesin penggiling yang mengubah sebuah material menjadi berukuran nanopartikel. Di tangan Nurul, mesin tersebut diproduksi dengan biaya yang rasional yaitu sekitar IDR 5 juta sampai dengan IDR 20 juta saja. Dengan rentang harga seperti itu diharapkan akan ada banyak perusahaan di Indonesia yang mau mengolah bahan baku dengan proses nanoteknologi.

Kemudian ada Barry Likumahuwa. Putra dari Benny Likumahuwa ini adalah seorang yang struggle sekaligus rebel. Mungkin karena usianya yang masih sangat muda. Barry berani memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah ataupun belajar musik secara formal.

Semua kemampuannya bermusik merupakan hasil didikan pengalaman. Barry berjuang sangat keras untuk dapat mencapai tingkatan seperti saat ini. Terbukti, permainan bass-nya saat TEDx Jakarta Event yang lalu sangat memukau dan mempesona.

Berikutnya Ade Rai. Siapa yang tidak kenal Ade Rai? Seorang atlet binaraga kebanggaan Indonesia. Tetapi pada TEDx Jakarta Event, Ade datang tidak untuk memamerkan tubuhnya. Ade datang untuk berbagi ide tentang bagaimana mewujudkan Indonesia yang sehat.

Menurut Ade, pangkal masalah semua penyakit adalah karena tingginya kadar lemak yang ada pada tubuh. Semakin tinggi kadar lemak maka semakin berpotensi untuk terkena penyakit.

Ade juga mengajukan konsep segitiga sinergi antara Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Olah Raga. Menurutnya dengan sinergi ketiga departemen ini akan mempercepat terwujudnya masyarakat Indonesia yang sehat.

Pembicara penutup pada TEDx Jakarta Event adalah Ridwan Kamil. Seorang Arsitek mumpuni yang sangat mencintai Indonesia. Ridwan selalu berusaha agar semua karyanya dapat banyak bermanfaat bagi masyarakat.

Tidak hanya mencipta, Ridwan juga aktif membina dan mengarahkan berbagai komunitas kreatif di Bandung. Ridwan mengajak mereka untuk berbuat sesuatu yang bernilai bagi kotanya.

Selain enam individu yang menjadi menu utama, TEDx Jakarta Event juga memutar tiga buah video inspiratif dari tiga pembicara yang pernah hadir pada penyelenggaraan TED.com. Ketiga pembicara tersebut adalah Chip Conley, Joachim de Posada dan Sir Ken Robinson. Diantara ketiganya yang paling memukau saya adalah video dari Joachim de Posada yang berjudul Don’t Eat the Marshmallow Yet.

Pada video berikut ini Joachim menceritakan hasil percobaannya yang telah dilakukan kepada anak-anak berusia 3 sampai dengan 5 tahun. Percobaan ini tentang bagaimana anak-anak tersebut menunda kepuasannya untuk memperoleh hasil yang lebih baik (delayed gratification). Reaksi mereka sungguh lucu sekali membuat saya terpingkal-pingkal karenanya🙂.

 

 

Last word, menurut saya penyelenggaraan TEDx Jakarta Event yang kelima ini begitu apik dalam mengemasnya. Elegan sekali. Semoga pada penyelenggaraan yang berikutnya juga sesukses seperti saat ini atau bahkan melampauinya.

Bagi Anda yang ingin tahu tentang bagaimana suasana saat acara tersebut berlangsung, mungkin beberapa foto di bawah ini dapat mewakilinya.

 

 

 

Bookmark and Share