Banyak orang yang pernah terjebak masalah akibat kecerobohannya dalam menuliskan status di situs jejaring sosial. Contoh teranyar adalah kecerobohan yang dilakukan oleh Dzulfikry Imadul Bilad beberapa hari yang lalu. Mengapa hal ini sering kali terjadi?

Apakah kecerobohan ini memiliki korelasi dengan tingkat intelektual? Tidak juga. Dzulfikry pasti bukan seorang yang bodoh, ia adalah mahasiswa dari perguruan nomor wahid di negeri ini. Begitu juga yang pernah terjadi pada Luna Maya atau Mario Teguh beberapa bulan yang lalu.

Menurut saya hal ini karena kurangnya pemahaman tentang prinsip situs jejaring sosial. Sebagian besar dari para penggunanya menganggap tidak serius terhadap penggunaan media ini. Mereka menganggapnya sebagai ‘taman bermain’ (playground), wahana untuk melepaskan semua penat dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga gaya bicara dan seluruh kepribadian dalam dunia nyata terbawa atau menjadi sama dengan gaya tulisan di status mereka. Mereka tidak cukup paham bahwa status akan dapat dibaca oleh pengguna lain di seluruh dunia. Para pengguna lain ini pasti memiliki standar norma hidup yang berbeda dengan mereka.

Contoh ketika kebiasaan Dzulfikry berteriak, mengumpat atau mencemooh saat sedang menonton pertandingan sepak bola akan menjadi sangat biasa dalam kehidupan sehari-harinya. Ia mungkin selalu berlaku seperti itu dengan kumpulan teman-temannya. Tetapi kalau gaya yang sama ia lakukan juga saat menuliskan status Facebook, ini akan jadi hal lain.

Begitu juga dengan Luna Maya. Apa yang ia tuliskan pada status Twitter, mungkin seperti itulah gayanya ketika ia sedang kesal. Dan teman-teman dekatnya akan memahami karena sudah tahu bahwa ia memang hanya sedang kesal saja. Tetapi ketika gaya itu ia bawa ke ranah situs jejaring sosial, ini juga akan berakibat lain.

Kemudian juga yang pernah terjadi pada Mario Teguh. Ia adalah seorang dengan gaya bicara yang filosofis dan ternyata terbawa juga dalam menuliskan status Twitternya. Seseorang yang gaya bicaranya seperti ini akan membutuhkan ruang yang cukup untuk menjelaskan maksudnya.

Sedang Twitter tidak menyediakan hal tersebut. Sehingga ketika ia menyampaikan sesuatu yang membutuhkan penjelasan lebih jauh, Mario Teguh tidak dapat melakukannya. Akibatnya seperti yang pernah kita saksikan. Banyak orang yang bereaksi salah terhadap status-nya.

Dari banyak kasus yang pernah terjadi itu maka sudah seharusnya kita menganggap semua situs jejaring sosial sebagai sesuatu yang serius. Bukan lagi sebagai ‘taman bermain’. Karena kita bersama dengan penduduk di seluruh dunia memang sedang terbuai dalam era social network ini. So be serious!… Pikir ulang lagi segala kata-kata yang ingin Anda tuliskan pada status Facebook atau Twitter.

 

 

Bookmark and Share