Ini yang biasa terjadi dalam pekerjaan. Seorang atasan (pemberi kerja) selalu memerintahkan bawahannya (pekerja) untuk melakukan segala sesuatu dalam pekerjaan. Sedang bawahan biasanya menunggu apa yang diperintahkan oleh atasan untuk mulai berkerja hari itu.

Apakah prilaku seperti itu benar? Jawabannya pasti tidak. Kedua-duanya tidak benar. Tetapi begitulah yang lazim terjadi sehingga lama kelamaan kita menganggap hal itu menjadi benar.

Atasan dinilai salah, karena telah menciptakan budaya kerja yang tidak mandiri kepada para bawahannya. Ia tidak memberitahu secara jelas dan rinci deskripsi pekerjaan sejak awal bawahannya memulai kerja di perusahaan. Sehingga setiap hari ia harus memerintahkan apa yang harus dikerjakan oleh bawahannya tersebut.

Bawahannya juga tidak bisa dianggap benar. Karena ia tidak cukup cerdas untuk mengetahui apa yang dapat dikerjakan sesuai dengan fungsinya di perusahaan. Sehingga ia selalu berada dalam posisi menunggu perintah. Jika tidak ada perintah dari atasan maka tidak ada yang dikerjakannya hari itu.

Situasi seperti ini memang tidak boleh terus berlanjut. Karena akan merugikan semua pihak. Menurut saya, kesalahan ini berawal dari persepsi bahwa bawahan bekerja untuk atasannya, bukan untuk pekerjaannya. Bagaimana kalau sekarang diubah? Persepsi baru, yaitu atasan bekerja untuk bawahan yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.

Jadi dalam persepsi baru, seharusnya atasan bertanggung jawab untuk membantu bawahan agar dapat menyelesaikan tugas-tugasnya. Atasan dapat membantu dengan cara membuka akses terhadap semua fasilitas aset yang dimiliki seperti sistem, teknologi, SDM dan sebagainya.

Di sisi lain, bawahan mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan rincian deskripsi pekerjaan yang ada. Bawahan harus dapat dengan cerdas memanfaatkan akses untuk menggunakan fasilitas aset yang diberikan oleh atasan agar mudah menyelesaikan tugas-tugasnya.

 

 

Bookmark and Share