Ujian Akhir Semester (UAS) sudah diambang pintu. Mahasiswa mulai sibuk mempersiapkan diri dengan belajar lebih intensif dari biasanya sedang dosen mulai merancang soal yang akan digunakan saat ujian nanti. Tingkat stres mahasiswa mulai naik karena saat itulah vonis lulus atau gagal akan ditentukan melalui ujian tersebut. Dosen pun tak kalah pusing karena harus membaca dan menilai semua jawaban yang diberikan mahasiswa yang terkadang membuat sedih ketika membaca jawaban yang salah tetapi juga tak jarang membuat senang ketika mengetahui jawaban yang diberikan benar. Seperti inilah suka duka masa ujian dan kita semua pernah mengalaminya sewaktu kuliah dahulu.

Vonis lulus atau gagal dari sebuah ujian sering disimbolkan melalui rentang bobot (seperti 4.0 – 1.0), rentang huruf (seperti A – F), rentang deskripsi (seperti excellent –failed), rentang persentase (seperti 100% – 0%) dan seterusnya. Tahukah bahwa sistem penilaian seperti yang kita kenal dan pakai sampai saat ini sudahlah tua umurnya. Adalah Profesor William Farish pada tahun 1792 yang pertama kali menciptakan dan menggunakan sistem penilaian untuk menentukan kelulusan tugas kuliah mahasiswa-mahasiswanya di Universitas Cambridge.

Sejak saat itu sistem penilaian yang diciptakan Profesor Farish mulai banyak digunakan dan dikembangkan dengan banyak variasi. Adalah Universitas Yale yang pertama kali menerapkan rentang bobot 4.0 – 1.0 untuk simbol kelulusan pada tahun 1813. Kemudian pada tahun 1860 Universitas Michigan memperkenalkan sistem penilaian P C A, P untuk menyatakan passing (lulus), C untuk menyatakan conditioned (dapat lulus dengan kondisi tertentu) dan A untuk menyatakan absent (gagal). Selanjutnya pada tahun 1898 Universitas Harvard menciptakan rentang huruf A B C D E F untuk sistem penilaiannya.

Variasi sistem penilaian pada masa sekarang sudah sangat beragam. Setiap negara mempunyai sistem sendiri seperti Amerika Serikat yang menggunakan rentang huruf, A (nilai tertinggi,excellent), B (di atas rata-rata), C (rata-rata), D (nilai minimal lulus) dan F (gagal). Lain lagi dengan negara Chile yang menggunakan rentang bobot 1.0 – 7.0 dengan menetapkan bobot 4.0 sebagai batas kelulusan. Negara Hongkong juga mempunyai sistem penilaian sendiri yaitu menggunakan rentang huruf dan ditambah dengan tanda + atau – (A+ A A-, B+ B B-, C+ C C-, D+ D, F). Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Mayoritas perguruan tinggi di Indonesia menggunakan rentang huruf (A A-, B+ B B-, C+ C C-, D), rentang angka (100 – 0) dan rentang bobot (4.0 – 1.0) dengan menetapkan huruf C, nilai 60 dan bobot 2.0 sebagai batas kelulusan. Khusus di Universitas Indonesia, sistem penilaian baru telah ditetapkan pada tanggal 14 Agustus 2009 dan digunakan untuk semester gasal 2009/2010 ini yaitu seperti berikut

Huruf  Bobot  Nilai 
A 4.0 85 – 100
A- 3.7 80 – 84
B+ 3.3 75 – 79
B 3.0 70 – 74
B- 2.7 65 – 69
C+ 2.3 60 -64
C 2.0 55 -59
C- 1.7 50 -54
D 1.0 40 – 49
E 0 <40

dengan menetapkan huruf C, nilai 55 dan bobot 2.0 sebagai batas kelulusan.

Sepintas lalu tidak ada yang berbeda dengan sistem tersebut tetapi jika diteliti lebih teliti maka akan ditemukan dua hal yang berbeda yaitu

  1. Untuk mendapatkan A, cukup hanya dengan memperoleh nilai 85 saja tidak lagi nilai 90 seperti yang dahulu atau seperti di perguruan tinggi lainnya. Cukup mudah bukan?
  2. Untuk dapat melewati batas kelulusan C maka dibutuhkan nilai 55 saja tidak lagi nilai 60 seperti yang dahulu atau seperti di perguruan tinggi lainnya. Tidak terlalu sulit bukan?

Mengapa seperti itu? Tidak ada penjelasan yang resmi dari pihak Rektorat Universitas Indonesia kepada Dosen ataupun Mahasiswa. Apakah dengan sistem baru ini akan banyak mahasiswa yang berhasil mendapatkan A? Atau akan banyak jumlah mahasiswa yang kemungkinan dapat lulus? Belum tentu juga. 

Seorang rekan Dosen bergurau, “Kalau sistemnya seperti ini maka saya akan juga menurunkan standar nilai saya”. Saya lalu bertanya, “Maksudnya bagaimana pak?”. Dosen tersebut kemudian menjawab, ”Saya akan memberikan nilai paling tinggi 85”. Saya pun akhirnya mengerti dan tersenyum mendengar hal itu. Benar juga ya!

Referensi

Grade (education). (2009, December 9). In Wikipedia, The Free Encyclopedia. Retrieved 02:30, December 10, 2009, from http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Grade_(education)&oldid=330678324

Academic grading in Indonesia. (2009, June 5). In Wikipedia, The Free Encyclopedia. Retrieved 05:16, December 10, 2009, from http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Academic_grading_in_Indonesia&oldid=294655959